Rabu, 24 Juni 2009

Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kepungan teknologi telah membentuk “gaya hidup” tersendiri dlm diri anak. Banyak “idola” yg lahir dari rahim media utama peranti elektronik bernama televisi. Di sisi lain idola sesungguh bagi umat Islam justru dilupakan dan dianggap tokoh yg semata mengisi lembar sejarah. Di mana peran orang tua selama ini?

Seorang anak kecil sedang menggenggam sebuah majalah anak-anak mata mengamati sesosok artis cilik yg termuat di majalah itu. Di kamar terpajang beberapa poster sang artis. Menjadi seperti sang tokoh adl idaman yg dia angankan selama ini. Pakaian aksesori bahkan gaya dia buat semirip mungkin dgn tokoh pujaannya. Bahkan kalau bisa makanan dan mainan favorit si artis pun menjadi favorit pula. Segala tingkah polah si artis adl suatu yg sah-sah saja baginya.
Fenomena semacam ini sangat sering ditemui di banyak tempat di segala tingkatan usia membuat kita benar-benar mengelus dada. Bagaimana tdk sementara yg lbh banyak mereka konsumsi adl beraneka ragam majalah anak televisi dgn beragam channel dan acara tdk sulit pula mereka meni’mati VCD. tdk aneh tentu bila mereka lbh banyak mengenal tokoh-tokoh yg ada di sana.
Ha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita mengadukan segala keadaan yg menyedihkan seperti itu. Betapa mereka tdk mengenal tentang satu-satu sosok yg layak dijadikan panutan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa jarang bahkan hampir tdk pernah mereka dengar cerita kehidupan utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala ini kecuali hanya sekedar nama atau sekilas biografi dlm mata pelajaran agama dgn jam pelajaran yg amat terbatas di sekolah.
Mana sebenar yg lbh melapangkan dada orang tua si anak mengikuti tokoh rekaan atau tokoh pujaan yg memiliki segudang kekurangan dan banyak kemungkinan berbuat kesalahan dan kemaksiatan ataukah si anak meneladani sosok yg begitu sempurna utk menjadi teladan yg memiliki segala sisi kebaikan?
Orangtua yg bijaksana tentu menginginkan kebaikan bagi anak-anak mereka tdk sebatas saat anak-anak itu hidup di dunia namun hingga nanti ketika mereka telah kembali ke hadapan Rabbnya. Orang tua seperti ini tentu akan menjaga anak-anak mereka dari kerusakan moral –dan menjaga sebaik-baik moralitas mereka– sehingga tdk akan membiarkan anak mereka bergaya dan berperilaku semau mereka. Mereka akan membimbing anak-anak yg bak ranting muda yg mudah tertiup angin ini dgn bimbingan terbaik. Sementara itu tdk ada bimbingan terbaik selain yg didapat dari sosok manusia yg terbaik pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Semesti orangtua memiliki andil besar dlm mengenalkan anak-anak pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tumbuh rasa cinta anak-anak itu kepada beliau. Dari sana mereka akan terdorong utk mengikuti beliau dlm ucapan perilaku dan dlm segala hal. dlm kehidupan beliau mereka mendapatkan pelajaran yg besar dan sangat berharga utk kehidupan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dlm Kitab-Nya yg mulia:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا

“Sesungguh pada diri Rasulullah ada teladan yg baik bagimu yaitu bagi orang yg mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.”
Permasalahan mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah permasalahan sepele krn kecintaan kepada beliau merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan hal ini sebagaimana dinukilkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Tidak sempurna keimanan seseorang di antara kalian sampai diriku menjadi seorang yg lbh dia cintai daripada ayah anak dan seluruh manusia.”
Jika kita menelaah kehidupan anak-anak di kalangan para sahabat kita akan melihat kecintaan mereka yg begitu besar kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menjadi seseorang yg paling mereka utamakan dan paling berharga dlm kehidupan mereka. Mereka memiliki kebanggaan dgn mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihat bagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menuturkan tentang dirinya:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: وَمَا أَعْدَدْتَ لِلسَّاعَةِ؟ قَالَ: حُبَّ اللهِ وَرَسُوْلِهِ. قَالَ: فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ. قَالَ أَنَسٌ: فَمَا فَرِحْنَا بَعْدَ اْلإِسْلاَمِ فَرَحًا أَشَدَّ مِنْ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ. قَالَ أَنَسٌ: فَأَنَا أُحِبُّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُوْنَ مَعَهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِأَعْمَالِهِمْ

“Seseorang pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berta ‘Wahai Rasulullah kapan hari kiamat terjadi?’ Beliau pun berta kepada ‘Apa yg telah engkau persiapkan utk menghadapi hari kiamat?’ Dia menjawab ‘Kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya.’ mk beliau bersabda ‘Engkau bersama orang yg engkau cintai.’ Anas berkata ‘Tidak ada sesuatu pun yg menggembirakan kami setelah Islam lbh dari ucapan Nabi: ‘Engkau bersama orang yg engkau cintai’. Aku mencintai Allah Rasul-Nya Abu Bakr dan Umar mk aku pun berharap akan bersama mereka walaupun aku belum beramal seperti amalan mereka.”
Tidak heran bila Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu begitu mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam krn semenjak kehadiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah –ketika itu Anas masih berusia delapan atau sepuluh tahun– dia selalu mendampingi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam utk membantu dan melayani beliau. Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha sang ibulah yg mendorong Anas dan menyerahkan pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar memberikan khidmah kepada beliau. Anas melayani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun lama hingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Anas begitu terkesan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg tdk pernah memukul tdk pernah mencela maupun bermuka masam di hadapan selama dia memberikan pelayanan kepada beliau.
Begitu cinta dan begitu besar keinginan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu utk mengikuti dan meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai-sampai makanan yg semula tdk disukai pun menjadi sesuatu yg dia sukai krn melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memakannya. Anas menceritakan:

إِنَّ خَيَّاطًا دَعَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِطَعَامٍ صَنَعَهُ، قَالَ أَنَسٌ: فَذَهَبْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى ذَلِكَ الطَّعَامِ، فَقَرََّبَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُبْزًا مِنْ شَعِيْرٍ وَمَرَقًا فِيْهِ دُبَّاءٌ وَقَدِيْدٌ. قَالَ أَنَسٌ: فَرَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَتَبَّعُ الدُّبَّاءَ مِنْ حَوْلِ القَصْعَةِ، فَلَمْ أَزَلْ أُحِبُّ الدُّبَّاءَ مِنْ يَوْمِئِذٍ. قَالَ ثُمَامَةُ عَنْ أَنَسٍ: فَجَعَلْتُ أَجْمَعُ الدُّبَّاءَ بَيْنَ يَدَيْهِ

“Seorang tukang jahit mengundang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam utk meni’mati hidangan makan yg disajikannya. mk aku mendatangi undangan makan itu bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia pun menghidangkan di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam roti gandum serta kuah berisi labu dan daging. Lalu aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjumputi labu dari pinggiran pinggan. mk sejak hari itu aku selalu menyukai labu.” Tsumamah mengatakan dari Anas “Maka kukumpulkan labu itu di hadapan beliau.”
Kisah ini menunjukkan keutamaan yg nyata pada diri Anas radhiyallahu ‘anhu krn dia selalu mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai pun pada segala sesuatu yg bersifat jibiliyyah.1
Kisah lain yg begitu mengesankan tercatat dlm Ash-Shahihain tentang dua pemuda yg begitu mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kecintaan itu membangkitkan keberanian mereka dlm perang Badr utk membunuh musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya yg telah banyak mengganggu dan menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kisah ini dituturkan oleh seorang sahabat yg bernama Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu yg menyaksikan dgn mata kepala sepak terjang kedua pemuda ini:

بَيْنَا أَنَا وَاقِفٌ فِى الصَّفِّ يَوْمَ بَدْرٍ فَنَظَرْتُ عَنْ يَمِيْنِي وَشِمَالِي، فَإِذَا أَنَا بِغُلاَمَيْنِ مِنَ اْلأَنْصَارِ حَدِيْثَةٍ أَسْنَانُهُمَا تَمَنَّيْتُ أَنْ أَكُوْنَ بَيْنَ أَضْلَعَ مِنْهُمَا، فَغَمَزَنِي أَحَدُهُمَا فَقَالَ: يَا عَمِّ، هَلْ تَعْرِفُ أَبَا جَهْلٍ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، مَا حَاجَتُكَ إِلَيْهِ يَا ابْنَ أَخِي؟ قَالَ: أُخْبِرْتُ أَنَّهُ يَسُبُّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَئِنْ رَأَيْتُهُ لاَ يُفَارِقُ سَوَادِي سَوَادَهُ حَتَّى يَمُوْتَ اْلأَعْجَلُ مِنَّا. فَتَعَجَّبْتُ لِذَلِكَ، فَغَمَزَنِي اْلآخَرُ فَقَالَ لِي مِثْلَهَا، فَلَمْ أَنْشَبْ أَنْ نَظَرْتُ إِلَى أَبِي جَهْلٍ يَجُوْلُ فِى النَّاسِ. فَقُلْتُ: أَلاَ، إِنَّ هَذَا صَاحِبُكُمَا الَّذِي سَأَلْتُمَانِي، فَابْتَدَرَاهُ بِسَيْفَيْهِمَا، فَضَرَبَاهُ حَتَّى قَتَلاَهُ. ثُمَّ انْصَرَفَا إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَاهُ فَقَالَ: أَيُّكُمَا قَتَلَهُ؟ قَالَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا: أَنَا قَتَلْتُهُ. فَقَالَ: هَلْ مَسَحْتُمَا سَيْفَيْكُمَا؟ قَالاَ: لاَ. فَنَظَرَ فِى السَّيْفَيْنِ فَقَالَ: كِلاَكُمَا قَتَلَهُ سَلَبُهُ لِمُعَاذِ بْنِ عَمْرِو ابْنِ الْجَمُوْحِ. وَكَانَا مُعَاذَ بْنَ عَفْرَاءَ وَ مُعَاذَ ابْنَ عَمْرِو بْنِ الْجَمُوْحِ

“Ketika aku berdiri di tengah-tengah barisan pasukan dlm perang Badr aku melihat ke kiri dan kananku. Ternyata aku berada di antara dua pemuda Anshar yg masih belia umurnya. Aku pun berangan-angan aku lbh kuat daripada keduanya. Lalu salah satu di antara mereka menggamitku sambil berta “Wahai paman apakah engkau mengenal Abu Jahl?” Aku menjawab “Ya! Apa perlumu dgn Abu Jahl wahai anak saudaraku?” Dia berkata “Aku pernah diberi tahu bahwa dia selalu mencela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demi Dzat yg jiwaku ada di tangan-Nya tdk akan berpisah diriku dengan sampai mati salah seorang di antara kami yg paling cepat ajalnya.” Aku pun merasa kagum akan hal itu. Kemudian pemuda yg satu juga menggamitku dan mengatakan padaku hal yg serupa. Tidak lama setelah mereka berta padaku aku melihat Abu Jahl sedang bergerak kesana kemari di antara pasukan. Aku pun berkata pada mereka berdua “Lihat! Itulah orang yg kalian tanyakan padaku tadi.” Kedua pun bergegas menyerang Abu Jahl dgn pedang mereka lalu menebas hingga berhasil membunuhnya. Setelah itu mereka pergi menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memberitakan peristiwa itu pada beliau. “Siapa di antara kalian yg membunuhnya?” ta beliau. Masing-masing dari kedua menjawab “Saya yg membunuhnya!” “Apakah kalian sudah membersihkan pedang kalian?” ta beliau lagi. “Belum” jawab mereka. Beliau lalu mengamati kedua pedang mereka kemudian berkata “Kalian berdua telah membunuhnya. Sementara barang-barang yg digeledah dari Abu Jahl menjadi milik Mu’adz bin ‘Amr ibnul Jamuh.” Kedua pemuda itu adl Mu’adz bin ‘Afra` dan Mu’adz bin ‘Amr ibnul Jamuh.
Inilah sebagian kecil di antara sekian banyak kisah tentang kecintaan anak-anak para sahabat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun bukan berarti kecintaan kepada beliau turut sirna dgn wafat beliau sama sekali tidak. Bahkan harus terus berlanjut termasuk dgn mencintai sunnah-sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menukilkan ucapan Al-Qadhi bin ‘Iyadh rahimahullahu: “Di antara bentuk kecintaan pada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adl menolong sunnah beliau membela syariat beliau dan mengangankan seandai beliau masih ada sehingga dia bisa mengorbankan harta dan jiwa utk membela beliau.”
Berarti termasuk tanggung jawab orang tua adl mengajarkan Sunnah-Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membiasakan mereka utk melaksanakan dlm keseharian memupuk kecintaan dan pengagungan mereka terhadap Sunnah-sunnah tersebut disertai dgn pembelaan terhadap sunnah dari orang2 yg meremehkan dan mencelanya.
Yang seperti ini pun kita bisa mendapati dlm kehidupan generasi terbaik umat ini. Mereka mengajari anak-anak mereka Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihat kesungguhan Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu dlm mengajari anak-anaknya:

كَانَ سَعْدٌ يُعَلِّمُ بَنِيْهِ هَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ كَمَا يُعَلِّمُ الْمُعَلِّمُ الْغِلْمَانَ الْكِتَابَةَ وَيَقُوْلُ: إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْهُنَّ دُبُرَ الصَّلاَةِ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Sa’d mengajari anak-anak kalimat ini seperti seorang guru mengajari anak-anak menulis. Dia mengatakan ‘Sesungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa meminta perlindungan dari perkara-perkara ini tiap selesai shalat: Ya Allah aku mohon perlindungan pada-Mu dari sifat penakut dan aku mohon perlindungan-Mu dari dikembalikan diriku pada usia yg lemah dan aku mohon perlindungan-Mu dari fitnah dunia dan aku mohon perlindungan-Mu dari azab kubur.”
Demikian pula yg dikisahkan seorang anak shahabat yg mulia Muslim bin Abi Bakrah:

أَنَّهُ كَانَ سَمِعَ وَالِدَهُ يَقُوْلُ فِي دُبُرِ الصَّلاَةِ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ. فَجَعَلْتُ أَدْعُو بِهِنَّ، فَقَالَ: يَا بُنَيَّ، أَنَّى عُلِّمْتَ هَؤُلاَءِ الكَلِمَاتِ؟ قُلْتُ: يَا أَبَتِ، سَمِعْتُكَ تَدْعُو بِهِنَّ فِي دُبُرِ الصَّلاَةِ، فَأَخَذْتُهُنَّ عَنْكَ. قَالَ: فَالْزَمْهُنَّ يَا بُنَيَّ، فَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو بِهِنَّ فِي دُبُرِ الصَّلاَةِ

“Dia selalu mendengar ayah berdoa pada akhir shalatnya: ‘Ya Allah aku mohon perlindungan pada-Mu dari kekufuran kefakiran dan azab kubur.’ mk aku turut pula mengucapkan doa itu. Kemudian ayahku berta “Wahai anakku dari mana engkau diajarkan kalimat-kalimat itu?” Aku menjawab “Wahai ayah aku mendengarmu mengucapkan doa itu di akhir shalatmu mk aku pun mempelajari darimu.” Ayahku berkata lagi “Tetaplah kau baca doa itu wahai anakku krn Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengucapkan doa itu di akhir shalat beliau.”
Tak hanya itu para sahabat juga membiasakan anak-anak mereka utk mengamalkan perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa misalnya. Ini diceritakan oleh Rubayyi’ bintu Mu’awwidz radhiyallahu ‘anha:

أَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ عَاشُوْرَاءَ إِلَى قُرَى اْلأَنْصَارِ: مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيَصُمْ. قَالَتْ: فَكُنَّا نَصُوْمُهُ بَعْدُ وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حَتَّى يَكُوْنَ عِنْدَ اْلإِفْطَارِ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang pada pagi hari ‘Asyura ke perkampungan Anshar utk menyampaikan: “Barangsiapa yg pagi hari itu dlm keadaan tdk berpuasa hendak menyempurnakan hari itu dgn berpuasa dan barangsiapa yg berpuasa hendak menyempurnakan puasanya.” mk kami pun berpuasa dan menyuruh anak-anak kami berpuasa dan kami membuat mainan dari perca. Apabila anak-anak itu menangis krn lapar kami memberikan mainan itu. Demikian seterus hingga tiba waktu berbuka.”
Inilah yg ada dlm kehidupan para sahabat. Mereka mendorong anak-anak mereka utk mencintai beliau mencintai syariat yg beliau bawa dan melaksanakan dlm kehidupan mereka. Mereka berharap dgn itu anak-anak mereka akan senantiasa terbimbing sepanjang hidup mereka di dunia serta meraih bahagia dlm kehidupan mereka kelak di kampung akhirat. Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

1 Yaitu perbuatan yg muncul dari tabiat atau sifat asal seseorang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar