Minggu, 10 April 2011

Pengakuan MUI bahwa Film Tanda Tanya,menyesatkan...

Toleransi ala Hanung seperti jalan yang menghantarkan umat ini pada sebuah pendangkalan aqidah dan jembatan menuju Neraka. Aroma pluralisme dalam film ”?” terasa begitu menyengat. Stereotype umat Islam yang buruk, dilukiskan Hanung dengan cara pandang yang lebay, tendensius, dan fatal.

Setelah Film “Perempuan Berkalung Surban” menuai kontroversi, Sutradara Hanung Bramantyo kembali menggarap film terbarunya yang hanya diberi tanda “?” (tanda tanya). Difilm ke-14 nya tersebut, Hanung menggaet beberapa bintang film muda, seperti Reza Rahardian, Revalina S Temat, Agus Kuncoro, Endhita, Rio Dewanto, Hengky Sulaeman, David Chalik, dan Glenn Fredly.

Film ”?” merupakan hasil produksi kerjasama antara Mahaka Picture dan Dapur Film ini, dimana Erick Thohir sebagai Produser Eksekutifnya, Titien Wattimena (penulis naskah), Tya Subiakto (penata musik), dan Yadi Sugandi (penata fotografi). Untuk lokasi syuting dipilih di kota Semarang, Jawa Tengah.

“Saya pilih tempat di Semarang, karena di sana ada lima agama, tapi tidak pernah terjadi penusukan terhadap umat beragama yang berbeda. Ini sebuah film yang menceritakan kegelisahan saya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Saya ingin berstatmen dalam bentuk film,” tukas Hanung.

Saat menyaksikan launcing pemutaran film berdurasi 100 menit ini di bioskop Jakarta Teater, voa islam mencatat, ada beberapa adegan yang sangat menyengat dan melukai hati umat Islam. Aroma pluralisme sudah bisa dirakan saat melihat poster film itu dengan kata: “masih pentingkah kita berbeda?”. Bahkan Hanung akan memberi doorprize senilai Rp. 100 juta kepada penonton yang memberikan judul untuk film “?” ini.

Melukai Umat Islam

Di awal-awal film itu, penonton sudah disengat dengan hal yang sensitif, seperti adegan penusukan terhadap seorang pendeta bernama Albertus. Tidak jelas apa motif penusukan yang dilakukan oleh seseorang yang berpenampilan preman tersebut. Meski tidak menunjuk hidung secara langsung, namun ada kesan Hanung hendak menggiring sterotype buruk, seolah yang suka melakukan tindakan anakis datang dari kelompok agama tertentu.

Adegan selanjutnya, tanpa alasan yang jelas pula, sekelompok pemuda Islam bersarung dan berpeci tiba-tiba mencerca seorang keturunan Cina dengan panggilan ”Cino” (menyebut Cina dengan logat Jawa). Dalam film ini, Hanung banyak menggunakan simbolik-simbolik sensasi murahan yang didramatisir, yang berpangkal dari sebuah kemarahan terpendam.

Dangan dalih toleransi, Hanung juga menciptakan adegan seorang Muslimah berkerudung yang merasa nyaman bekerja di sebuah rumah makan (restoran) yang menyajikan daging babi yang diharamkan oleh Islam. Toleransi ala Hanung ingin mengesankan, bahwa muslimah yang diperankan oleh Revalina S Temat adalah muslimah yang ideal, yang bisa menghargai sebuah perbedaan. Meski tidak sampai memakannya, tidak terlihat kegalauan hati dari seorang Muslimah, seolah daging babi bukan sesuatu yang diharamkan.

Di sela adegan itu, ada seorang Muslimah yang menolak bekerja di sebuah restoran yang sama, dengan alasan prinsip agama yang dipegang. Namun, cara pandang Hanung yang keliru, ingin menunjukkan bahwa Muslimah yang menolak bekerja di restoran Cina karena menyajikan daging babi itu sabagai muslimah yang tidak toleran.

Sang Murtadin

Adegan yang menyesatkan lainnya adalah ketika seorang wanita (diperankan Endhita) yang sebelumnya beragama Islam kemudian berpindah agama alias murtad menjadi seorang pemeluk Nasrani yang taat. Ada sebuah ungkapa yang terlontar dari bibir sang murtadin tadi, bahwa dirinya pindah agama tidak berarti mengkhinati Tuhan. Pesan yang disampaikan dalam film ini adalah manusia berhak menjadi murtad, dan itu adalah hak asasi yang patut dihargai.

Adegan yang lebih menyengat lagi adalah ketika seorang pemuda Muslim (diperankan Agus Kuncoro) bersedia diajak bermain drama di sebuah gereja pada perayaan Paskah, dengan memerankan sebagai Yesus Kristus. Mulanya hatinya galau, tapi setelah berkonsultasi pada seorang ustadz muda (diperankan oleh David Khalik), ditemukan jawaban yang amat sesat menyesatkan.

Katanya, bahwa untuk menjaga keimanan bukan terletak pada fisik, melainkan hati. Maka masuk gereja, bahkan memerankan aktor sebagai Yesus sekalipun bukan sesuatu yang subhat dan diharamkan. Bagi Hanung, hal itu tak perlu dipersoalkan.

Serasa kontras, usai memerankan Yesus, pemuda muslim yang sehari-hari tinggal di masjid itu pun melafadzkan QS. Al Ikhlas. Hanung ingin menggambarkan, memerankan Yesus bukan ancaman yang bisa mendangkalkan akidah keislaman seseorang. Justru ia semakin shaleh. Inilah kampanye pluralisme yang diusung Hanung.

Kok bisa, QS Al Ikhlas yang menegaskan bahwa Dia (Allah Swt) Tuhan yang Maha Esa. Tuhan tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Tapi oleh Hanung, Al Ikhlas ditafsirkan secara serampangan dengan kacamata pluralis, yang membenarkan Yesus sebagai anak Tuhan. Setidaknya Hanung memnghantarkan seorang Muslim menjadi hipokrit bahkan musyrik.

Adegan yang terasa lebay juga dilukiskan Hanung, pada saat restoran Cina mengalami kerugian saat memasuki bulan Ramadhan dimana umat Islam sedang berpuasa. Ada kesan, bahwa pelanggan restoran yang suka makan daging babi itu adalah dari umat Islam. Sehingga ketika umat islam sedang menjalankan ibadah puasa, maka restoran pun menjadi sepi. Bahkan pada saat lebaran, pemilik restoran Cina itu lagi-lagi melarang karyawannya untuk libur atau pulang kampung, dengan alasan restoran merugi, karena terlalu lama libur.

Konyolnya, diciptakan insiden penyerangan terhadap restoran Cina itu oleh sekelompok umat Islam dengan membawa kayu dan terjadi tindakan anarkis yang disertai pemukulan. Hanung lagi-lagi membuat stereotype buruk atas umat Islam yang suka dengan anarkis. Bisa dibayangkan, apa mungkin di hari lebaran umat Islam melakukan penyerangan dan perusakan. Hanung yang mengaku Muslim nampak lebay dan tidak waras, dimana umat Islam digambarkan sebagai makhluk yang bengis dan biadab.

Adegan Banser yang menjaga gereja pun digambarkan sebagai hero. Oleh Hanung, Banser NU adalah sebuah pekerjaan yang disediakan untuk para pengangguran, seperti Soleh (diperankan oleh Reza Rahadian). Dari banyak adegan dalam film tersebut, nampak alur cerita yang tidak sistematis, tergesa-gesa, vulgar, sarkasme, sekedar simbolik untuk mendramatisir kisah yang penuh amarah, dan jauh dari kualitas. Film Hanung tak ubahnya ”sampah” yang melukai hati umat Islam.

Hanung sepertinya pura-pura bodoh, ketika ditanya apa itu pluralisme. Bahkan ia mengelak film garapannya itu punya motif untuk mengkampanyekan pluralisme. “Saya tidak mengerti apa itu pluralisme. Nanti, kalau saya bilang, film itu pluralisme, nanti golongan pluralis akan berusaha memanfaatkan. Begitu juga kalau saya bilang ini liberal, nanti mereka akan mengklaimnya juga.”

Jadi istilah pluralisme buat Hanung tidak lagi sesederhana istilahnya saja karena di dalamnya sudah ada muatan politis, pergerakan dan keyakinan. Saya berusaha melepas diri dari itu semua. Saya adalah peribadi yang hanya berusaha memotret semua persoalan yang berkelindan di dalam diri saya.

Ketika ditanya, bagaimana anda memahami pluralisme? Hanung mengaku tidak tahu pluralisme itu apa, karena ia sangat hati-hati dengan istilah pluralisme. “Makanya saya kasih judul film itu hanya tanda tanya,” ujarnya berdalih.

Bila Hanung mempersilahkan penonton memberi judul film “?” ini, maka pantas, jika film ini diberi judul “Sang Murtadin”. Setuju???

Instropeksi...

Kata orang sabar dan mengalah ada batasnya. Jujur aja aku gak sependapat tapi tetep aja kuhargai pendapat itu. Aku punya pemikiran sendiri tentang itu. Bukan masalah benar atau nggak tapi pemikiran ini kudapat dari pengalaman sendiri. maklumlah, sepanjang hidupku aku memang penuh dengan masalah. dan aku yakin kalau aku gak sendiri. baiknya kubagi saja ceritaku dan penyelesaiannya. Insya Allah ada gunanya untuk semua.

Kepikiran sama masalah yang banyak banget emang kadang bikin otak gak mampu berfikir dgn baik. Kadang kita ngerasa saking beratnya hingga keputusan terakhir haruslah menyerah dan pasrah.

Atau..kalau kita termasuk yang picik maka yang jadi ‘justifikasi’ adalah menyalahkan orng lain. Itu pasti.

Sangat jarang kita kembali pada kenyataan kalau setiap yang terjadi ( mungkin ) adalah buah perbuatan kita atau ( mungkin ) semua masalah bersumber dari kita yang salah membuat keputusan. Bisa jadi kita diajak untuk kembali ‘merefresh’ otak kita atau ‘membenahi’ kembali cara berfikir kita atau ‘sadar’ kalau kita sebenarnya salah.

Manusia adalah sumbernya kesalahan dan khilaf. Jadi kalau perbedaan pendapat terjadi, perbedaan prinsip hadir antara kta dengan pasangan, pacar, teman atau rekan kerja; maka cobalah kembali ke aturan yang tadi…pasti ada diantara keduanya yang khilaf. yang paling bijak adalah dengan berfikir positif dan menganggap kalau kitalah yang salah dan khilaf…jangan mencari kesalahan dari orang lain tapi carilah kesalahan pada diri sendiri. mencari kesalahan orang lain gak bakal pernah ada habisnya n malah mungkin bakal menambah masalah yang ada. tapi kalau mencari kesalahan diri sendiri bakal bikin kita Introspeksi, semakin dewasa dan semakin pintar untuk memanajemen emosi.

Dalam perbedaan pendapat atau prinsip selalu berakhir pada dua kemungkinan pilihan : Mengalah atau pisah. Pisah adalah cara terburuk sebuah penyelsaian tapi kadang yang terbaik untuk kedua pihak. Dan cara yang paling bijak adalah mengalah walaupun itu termasuk cara yang paling banyak butuh pengorbanan.

Bagiku sabar gak ada batasan waktu. Sabar adalah sabar dan gak akan pernah berubah sampai kapanpun. karena sabar adalah ikhlas memberikan hati kita untuk selalu mengerti atau coba mengerti orng lain. Seburuk apapun perlakuan orang pada kita. Agama apapun di dunia ini pasti menganjurkan untuk sabar dalam menghadapi masalah. Bahkan sumber dari segala sumber kebaikan adalah sabar.

Akan menjadi ada batasan jika situasinya sudah menyangkut harga diri dan kehormatan. Butuh reaksi tapi tetep aja tujuannya untuk mencari kebaikan. Ketegasan perlu. Tapi tegas yang bijak. Tegas yang juga mempertimbangkan norma-norma kemanusiaan. Yang pasti janganlah ketegasan dan mempertahankan prinsip bikin kita harus memutuskan hubungan silaturahmi dengan seseorng. Aku selalu berprinsip kalau rejeki hampir selalu diberikan Allah lewat tangan orng lain.

Bersabarlah. Karena sabar sangat baik untuk kesehatan otak dan mental kita. Sabar juga bisa menular dan hampir selalu mampu merubah yang jahat menjadi baik dan yang bingung akan mendapatkan pencerahan serta yang tidak mengerti menjadi mengerti.

Mengalahlah jika itu perlu. Karena mengalah adalah salah satu tindakan paling ksatria dan hanya bisa dilakukan oleh orng-orng yang punya pemikiran dalam dan luas. kalau harus bertindak, maka jangan lupa untuk tetap bijak dalam membuat keputusan. Tindakan yang didasari oleh otak yang jernih dan hati yang bersih.

Insya Allah selalu ada jalan terbaik selama kita menempatkan diri kita sebagai hamba Tuhan yang lemah dan memiliki kemampuan yang terbatas sebagai manusia.

Segala kekhilafan adalah milik manusia dan hanya Allah lah Yang Maha Pemilik alam semesta termasuk kita manusia…

Ikhlas Menerima Fitnah!!!

Susah juga kalo mau jadi orang baik. Mesti sabar. Mesti banyak-banyak ngertiin orang. Wajib gak bisa marah lama-lama. Katanya harus bisa berprinsip seperti lilin yang katanya “rela luluh demi menerangi yang gelap”. Jiah…Apa mesti aturannya kayk gitu terus sampe kiamat? gak kan? nah lho trus kalo gitu kita harus gimana kalo ada yang nyakitin,khianati,nusuk dari belakang,fitnah,nyebelin,ngebetein de el el..de el el…???

Waktu aku tanyain ke teman-temanku jawabnya beraneka ragam..malah ada yang ngasih solusi yang asli lebay..”dengan cinta”..huek…ngurusin satu kata itu aja udah sulit n kladang bikin dunia kacau balau trus mo di campur aduk sama urusan munafication and sirikanisme…bakal jadi apa coba…

Trus aku ketemu jawabannya malah saat aku lgi gak ngapa-ngapain and lagi nggak sama syapa-syapa…

Sabar itu nilainya gede. Butuh sesuatu yang sangat dalam. Butuh pengertian yang besar pada diri sendiri. Butuh kekuatan jiwa dan pikiran ekstra. Tapi semua orang bisa kok melakukannya. tapi pertanyaannya..”apa kita ikhlas?”atau kita lakukan itu cuma “karena terpaksa?”

Saat aku duduk diam sendiri. Aku sesak nafas kalo ingat betapa perjalan hidupku penuh dengan pengkhianatan dan fitnah…Menaruh kepercayaan pada orang yang salah…

Aku sebenarnya suka di ingetin sama orang-orang di sekitarku untuk jangan percaya beer sama temen. tapi aku gak bisa. Aku harus selalu percaya temenku.

Memang kalo mau jujur, sakit banget. tapi setelah dipikir-pikir. Pengkhianatan dan fitnah itu ada baiknya untuk aku.

Aku jadi blajar ikhlas. dan ikhlas itu bikin aku sabar…ikhlas bikin aku jadi ngerti sm teman2 di sekelilingku…Ikhlas bikin aku tahu apa arti sayang dan memberi persahabatan yang tulus pada semua orang..tanpa harus peduli apakah dia munafik, gak jujur atau suka menfitnah

karena bisa saja ada yg tetep baik diantara orang-orang yang tidak baik itu.

dan itu tujuan kita

mencari satu saja yang baik dan tulus menjadi teman dan sahabat kita.

Semuanya hanya di awali dengan satu kata…

Ikhlas…..

Senin, 04 April 2011

Ujian Hidup di Dunia


Dalam Al Qur'an surat Al 'Ankabuut (29) ayat 2 - 3, disebutkan firman Allah swt. yang berbunyi:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوْا أَنْ يَقُوْلُوْا آمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُوْنَ . وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ، فَلَيَعْلَمَنَّ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِيْنَ .

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang jujur dan sesungguhnya Dia benar-benar mengetahui orang-orang yang dusta!

Dalam surat Al Baqarah (2) ayat 214 Allah swt. berfirman:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوْا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ، مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَآءُ
وَالضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوْا حَتَّى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ ؛ أَلاَ إِنَّ نَصْــرَ
اللّهِ قَرِيْبٌ .

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk sorga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, "Bilakah datang pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat".

Dalam surat Al Baqarah (2) ayat 155 - 157 Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّـمَرَاتِ ؛
وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ . الَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ قَالُوْا إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ . أُوْلـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ، وَأُوْلئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ .

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesung-guhnya kita adalah orang-orang yang kembali kepada-Nya. Mereka itulah yang menda-pat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk".

Ayat-ayat tersebut di atas dan ayat-ayat lain yang senada memberi pelajaran kepada kita sekalian bahwa setiap orang yang hidup di dunia ini, dalam mencapai tujuan dan cita-cita hidupnya akan selalu menghadapi berbagai macam rintangan dan ujian. Ujian-ujian tersebut dimaksudkan agar:

* Setiap orang yang hidup di dunia ini menyadari bahwa untuk mencapai tujuan hidupnya di dunia ini tidaklah semudah dan semulus yang dibayangkan; akan tetapi harus melalui berbagai macam rintangan dan ujian.
* Setiap orang menyadari bahwa semua rintangan dan ujian hidup seperti: rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, kematian anggauta keluarga, musim kemarau yang panjang yang menyebabkan tanam-tanaman tidak berbuah dan lain sebagainya adalah se-ngaja diciptakan oleh Sang Pencipta manusia, agar manusia dapat memperoleh kebahagiaan hidup, baik di dunia yang berupa kepuasan jiwa (bukan kepuasan nafsu) maupun kebahagiaan di akhirat yang berupa kenikmatan sorga yang kekal dan abadi. Sebab setiap orang yang telah lulus dari sesuatu ujian hidup, lebih-lebih ujian yang berat, maka dia akan memperoleh kepuasan jiwa.
* Setiap orang menyadari bahwa dirinya tidak mungkin dapat lulus dari ujian tersebut tanpa mendapatkan pertolongan dari Allah swt. yang telah membuat ujian-ujian hidup tersebut, meskipun dia memiliki tenaga yang sangat kuat, akal fikiran yang sangat cerdas, harta benda yang melimpah ruah dan teman atau anak buah yang sangat banyak.
* Setiap orang menyadari bahwa pertolongan Allah swt. tersebut harus diminta. Dan untuk meminta pertolongan Allah swt., seseorang harus rajin menghadap ke hadirat-Nya paling tidak sehari semalam lima kali, dengan cara yang telah ditentukan olehNya, yaitu shalat lima waktu.
* Setiap orang menyadari bahwa untuk dapat lulus dari berbagai macam ujian dan cobaan hidup tersebut, disamping harus memohon pertolongan dari Allah swt. dia wajib bersabar, dalam arti harus memiliki keyakinan yang teguh bahwa sebenarnya dirinya adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah.
* Keyakinan yang demikian itu mengharuskan seseorang untuk menyelesaikan dan mengatasi semua rintangan dan ujian hidup menurut cara-cara yang dibenarkan oleh akal yang sehat dan dibenarkan pula oleh syari'at agama Islam; dan bukan lari ke dukun-dukun untuk meminta pertolongan dan bantuannya.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa'i, Ibnu Majah dan Al Hakim, Nabi Muhammad saw. telah bersabda:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَــلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .

Barangsiapa yang datang kepada ahli nujum (tukang meramal) atau dukun (orang yang mengaku mengetahui perkara yang ghaib), kemudian dia membenarkan (percaya) apa yang ahli nujum atau dukun tersebut katakan, maka benar-benar dia telah kafir terhadap kebenaran Al Qur'an yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw."

Imam At Thabrani meriwayatkan hadits Nabi Muhammad saw.:
مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ بَرِئَ مِمَّا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ أَتَاهُ غَيْرَ مُصَدِّقٍ لَهُ لَمْ يُقْبَلْ لَهُ صَلاَةُ أَرْبَعِيْنَ يَوْمَا .

Barangsiapa yang datang kepada dukun kemudian dia membenarkannya apa yang ia katakan, maka dia benar-benar telah melepaskan diri dari apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Dan barangsiapa yang datang kepada dukun dalam keadaan tidak membenarkan omongannya, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.
مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ حُجِبَتْ عَنْهُ التَّوْبَةُ أّرْبَعِيْنَ لَيْلَةً ، فَإِنْ صَدَّقَهُ بِمَا قَالَ فَقَدْ كَفَرَ .

Barangsiapa yang datang kepada dukun kemudian dia bertanya tentang sesuatu kepadanya, maka ditutup baginya pintu taubat selama 40 hari. Dan jika dia membenarkan omongan dukun tersebut, maka benar-benar dia telah menjadi kafir.

Sebenarnya, ujian hidup itu tidak hanya berupa hal-hal yang tidak mengenakkan saja; akan tetapi hal-hal yang menyenangkan, seperti: kekayaan, kesehatan, keberhasilan dan lain sebagainya, juga termasuk ujian hidup. Jika ujian hidup itu berupa hal yang tidak mengenakkan, kita dituntut untuk bersabar dalam arti selalu berada pada garis kebenaran yang telah ditetapkan oleh Allah swt. Dan jika ujian hidup itu berupa hal-hal yang menye-nangkan, maka kita dituntut untuk bersyukur. Hanya saja kenyataan menunjukkan bahwa menyukuri nikmat itu jauh lebih sulit dari pada bersabar.

Dalam Al Qur'an surat Al Mulk ayat 2 Allah swt. berfirman:
اَلَّذِى خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً ، وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ .

Dia menciptakan kematian dan kehidupan agar Dia dapat menguji kamu sekalian, siapakah di antara kamu sekalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia adalah Yang Maha Mulia lagi Maha Mengampunkan.

Secara terperinci, ujian-ujian hidup itu antara lain sebagai berikut.
Ujian yang berupa gangguan yang datangnya dari jin

Untuk itu, setiap kali kita mau bertindak, hendaklah kita jangan sampai lupa membaca do'a yang diajarkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw. sewaktu beliau dikejar oleh jin Ifrit dalam perjalanan isra' sebagai berikut:
أَعُوْذُ بِوَجْهِ اللّهِ الْكَرِيْمِ وَبِكَلِمَاتِ اللّهِ التَّامَّاتِ الَّتِى لاَ يُجَاوِزُهُنَّ بَرٌّ وَلاَ فَاجِر ٌمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيْهَا وَمِنْ شَرِّ مَا ذَرَأَ فِى الأَرْضِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمِنْ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ طَوَارِقِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِلاَّ طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَانُ .

Aku berlindung dengan wajah Allah Yang Maha Mulia dan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna yang tidak ada orang yang baik dan tidak pula orang yang durhaka dapat melampauinya, dari kejahatan apa saja yang turun dari la-ngit dan dari kejahatan apa saja yang naik ke atas langit; dari kejahatan apa saja yang masuk ke dalam bumi dan dari kejahatan apa saja yang keluar dari bumi; dari fitnah-fitnah di waktu malam dan siang hari, kecuali bencana yang datang dengan kebaikan, wahai Dzat Yang Maha Penyayang.
Kemurahan rizki

Sebenarnya kemurahan rizki yang diberikan oleh Allah swt. kepada seseorang itu, terkandung di dalamnya hak milik dari orang-orang yang fakir. Sehingga orang yang diberi kemurahan rizki itu adalah orang yang diuji oleh Allah swt. apakah dia dapat menyukuri kemurahan rizki tersebut dengan memberikan hak fakir miskin yang dititippkan oleh Allah swt. kepadanya ataukah tidak. Jika dia berikan, berarti dia lulus ujian; dan jika tidak, maka dia tidak lulus ujian.

Dalam surat Adz Dzariyat ayat 19 Allah swt. berfirman:
وَفِى أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّآئِلِ وَالْمَحْرُوْمِ .

Dan pada harta-harta mereka terdapat hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian.
Ujian dari keteguhan iman, dengan jalan diberi kemelaratan dan lainnya

Pada saat yang demikian itu apakah seseorang akan tetap teguh imannya, ataukah menjual imannya dengan harta, kedudukan dan lainnya.
Kesibukan pekerjaan

Pekerjaan yang sangat sibuk itu juga merupakan ujian, apakah seseorang berani menunda atau melalaikan atau meninggalkan kewajibannya menghadap kepada Allah swt. berupa shalat fardlu atau tidak.
Penyelewengan seksual

Terkadang seseorang digoda oleh wanita yang jauh lebih cantik dari isterinya sendiri atau laki-laki yang lebih tampan dari suaminya sendiri untuk melakukan penyimpangan seksual, sementara orang tersebut sedang mengalami kebosanan terhadap isteri atau suaminya sendiri.
Perbuatan iseng

Yaitu duduk di tepi jalan untuk mengganggu orang-orang yang lalu-lalang karena tidak ada pekerjaan penting yang harus dikerjakan
Membungakan uang dengan jalan riba
Jabatan rangkap

Terkadang seseorang yang telah memangku jabatan tertentu dibebani lagi dengan jabatan yang lain, sehingga dia tidak mampu melaksanakan amanat-amanat yang harus dilaksanakan.
Permintaan pidato, nasihat

Dari orang lain untuk berpidato dan memberikan nasihat tentang hal-hal yang dia sendiri belum mampu mengerjakannya
Melihat cacat orang lain

Sehingga ada kecenderungan untuk menggunjingnya, sedangkan dalam diri sendiri terdapat banyak kesalahan yang harus dikoreksi.

Minggu, 03 April 2011

ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH


Sesungguhnya keyakinan bahwa Allah ada tanpa tempat adalah aqidah Nabi Muhammad, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Mereka dikenal dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah; kelompok mayoritas ummat yang merupakan al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat). Dalil atas keyakinan tersebut selain ayat di atas adalah firman Allah:

“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (QS. as-Syura: 11)

Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (makhluk Allah) terbagai atas dua bagian; yaitu benda dan sifat benda. Kemudian benda terbagi menjadi dua, yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah mencapai batas terkecil (para ulama menyebutnya dengan al-Jawhar al-Fard), dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian (jism). Benda yang terakhir ini (jism) terbagi menjadi dua macam;
1. Benda Lathif; benda yang tidak dapat dipegang oleh tangan, seperti cahaya, kegelapan, ruh, angin dan sebagainya.
2. Benda Katsif; benda yang dapat dipegang oleh tangan seperti manusia, tanah, benda-benda padat dan lain sebagainya.
Sedangkan sifat-sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya. Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah ta’ala tidak menyerupai makhluk-Nya, bukan merupakan al-Jawhar al-Fard, juga bukan benda Lathif atau benda Katsif. Dan Dia tidak boleh disifati dengan apapun dari sifat-sifat benda. Ayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Karena seandainya Allah mempunyai tempat dan arah, maka akan banyak yang serupa dengan-Nya. Karena dengan demikian berarti ia memiliki dimensi (panjang, lebar dan kedalaman). Sedangkan sesuatu yang demikian, maka ia adalah makhluk yang membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam dimensi tersebut.

Rasulullah bersabda: “Allah ada pada azal (Ada tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al-Bukhari, al-Bayhaqi dan Ibn al-Jarud)

Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).
Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal, adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah. Sebagaimana ditegaskan juga oleh sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya-:

“Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat” (Dituturkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam kitabnya al-Farq Bayn al-Firaq, h. 333).

Al-Imam al-Bayhaqi (w 458 H) dalam kitabnya al-Asma Wa ash-Shifat, hlm. 506, berkata:

“Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah:

“Engkau Ya Allah azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu, dan Engkau al-Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu (HR. Muslim dan lainnya). Jika tidak ada sesuatu apapun di atas-Nya dan tidak ada sesuatu apapun di bawah-Nya maka berarti Dia ada tanpa tempat”.

Al-Imam as-Sajjad Zain al-‘Abidin ‘Ali ibn al-Husain ibn ‘Ali ibn Abi Thalib (w 94 H) berkata:

“Engkaulah ya Allah yang tidak diliputi oleh tempat”. (Diriwayatkan oleh al-Hafizh az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah Ahl al-Bayt; keturunan Rasulullah).

Adapun ketika seseorang menghadapkan kedua telapak tangan ke arah langit ketika berdoa, hal ini tidak menandakan bahwa Allah berada di arah langit. Akan tetapi karena langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah. Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan shalat ia menghadap ka’bah. Hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi karena ka’bah adalah kiblat shalat. Penjelasan seperti ini dituturkan oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti al-Imam al-Mutawalli (w 478 H) dalam kitabnya al-Ghun-yah, al-Imam al-Ghazali (w 505 H) dalam kitabnya Ihya ‘Ulumiddin, al-Imam an-Nawawi (w 676 H) dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim, al-Imam Taqiyyuddin as-Subki (w 756 H) dalam kitab as-Sayf ash-Shaqil, dan masih banyak lagi.
Al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -Semoga Allah meridlainya- (w 321 H) berkata:

“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang); tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi oleh enam arah penjuru tersebut”.

Perkataan al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi ini merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan ulama Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah). Diambil dalil dari perkataan tersebut bahwasannya bukanlah maksud dari Mi’raj bahwa Allah berada di arah atas lalu Nabi Muhammad naik ke arah sana untuk bertemu dengan-Nya. Melainkan maksud Mi’raj adalah untuk memuliakan Rasulullah dan memperlihatkan kepadanya keajaiban-keajaiban makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam al Qur’an surat al-Isra ayat 1.
Dengan demikian tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di satu tempat, atau disemua tempat, atau ada di mana-mana. Juga tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di satu arah atau semua arah penjuru. Al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (w 324 H) -Semoga Allah meridlainya- berkata:

“Sesungguhnya Allah ada tanpa tempat” (Diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam kitab al-Asma Wa ash-Shifat).

Al-Imam al-Asy’ari juga berkata: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah di satu tempat atau di semua tempat”. Perkataan al-Imam al-Asy’ari ini dinukil oleh al-Imam Ibn Furak (w 406 H) dalam kitab al-Mujarrad. Syekh Abd al-Wahhab asy-Sya’rani (w 973 H) dalam kitab al-Yawaqit Wa al-Jawahir menukil perkataan Syekh Ali al-Khawwash: “Tidak boleh dikatakan Allah ada di mana-mana”. Maka aqidah yang wajib diyakini adalah bahwa Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat.
Perkataan al-Imam ath-Thahawi di atas juga merupakan bantahan terhadap pengikut paham Wahdah al-Wujud; mereka yang berkeyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-makhluk-Nya, juga sebagai bantahan atas pengikut paham Hulul; mereka yang berkeyakinan bahwa Allah menempati sebagian makhluk-Nya. Dua keyakinan ini adalah kekufuran berdasarkan Ijma’ (konsensus) seluruh orang Islam sebagaimana dikatakan oleh al-Imam as-Suyuthi (w 911 H) dalam kitab al-Hawi Li al-Fatawi, dan Imam lainnya. Para Imam panutan kita dari ahli tasawuf sejati seperti al-Imam al-Junaid al-Baghdadi (w 297 H), al-Imam Ahmad ar-Rifa’i (w 578 H), Syekh Abd al-Qadir al-Jailani (w 561 H) dan semua Imam tasawwuf sejati; mereka semua selalu mengingatkan orang-orang Islam dari para pendusta yang menjadikan tarekat dan tasawuf sebagai sebagai wadah untuk meraih dunia, padahal mereka berkeyakinan Wahdah al-Wujud dan Hulul.
Dengan demikian keyakinan ummat Islam dari kalangan Salaf dan Khalaf telah sepakat bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Sementara keyakinan sebagian orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya; mereka yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang duduk di atas Arsy, adalah keyakinan sesat. Keyakinan ini adalah penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, karena duduk adalah salah satu sifat manusia. Para ulama Salaf bersepakat bahwa barangsiapa yang menyifati Allah dengan salah satu sifat di antara sifat-sifat manusia maka ia telah kafir, sebagaimana hal ini ditulis oleh al-Imam al-Muhaddits as-Salafi Abu Ja’far ath-Thahawi (w 321 H) dalam kitab aqidahnya yang terkenal dengan nama “al-‘Aqidah ath-Thahwiyyah”. Beliau berkata:

“Barang siapa mensifati Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia, maka ia telah kafir”.

Perhatian….!
Waspadai.. Keyakinan Tasybih [Keyakinan Allah serupa dengan makhluk-Nya] yang kian hari semakin merebak… Jangan sampaai merusak genarasi kita!!!?