Rabu, 24 Juni 2009

Hasad Penyakit Umat Terdahulu yg Menjangkiti Kaum Muslimin

Hasad bisa jadi adl penyakit jiwa yg paling sering menjangkiti atau setak pernah mendera kita tanpa disadari. Penyakit ini sesungguh adl penyakit “tertua” yg menjadikan iblis membangkang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang memilukan penyakit ini kemudian banyak diwarisi kaum muslimin hingga sekarang.

Maha Suci Allah Subhanahu wa Ta’ala yg telah membagi-bagi perangai para hamba-Nya sebagaimana Ia telah membagi-bagi rizki di antara mereka. Di antara manusia ada yg dianugerahi perangai yg baik jiwa yg bersih dan cinta terhadap saudara apa yg ia cintai bagi diri berupa kebaikan. Ada pula jenis manusia yg jelek perangai kotor jiwa serta tdk suka terhadap kebaikan yg diperoleh saudaranya.

Pengertian Hasad
Ulama berbeda-beda dlm mendefinisikan hasad. Namun inti ungkapan mereka hasad adl sikap benci dan tdk senang terhadap apa yg dilihat berupa baik keadaan orang yg tdk disukainya.
An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Hasad adl menginginkan hilang ni’mat dari yg memperoleh baik itu ni’mat dlm agama ataupun dlm perkara dunia.”

Sebab-sebab Terjadi Hasad
Pada dasar jiwa manusia memiliki tabiat menyukai kedudukan yg terpandang dan tdk ingin ada yg menyaingi atau lbh tinggi darinya. Jika ada yg lbh tinggi dari ia pun sempit dada dan tdk menyukai serta ingin agar ni’mat itu hilang dari saudaranya. Dari sini jelaslah bahwa hasad merupakan penyakit kejiwaan. Hasad merupakan penyakit kebanyakan orang. Tidak terbebas dari kecuali segelintir manusia. Oleh krn itu dahulu dikatakan: “Tiada jasad yg bebas dari sifat hasad. Akan tetapi orang yg jelek akan menampakkan hasad sedangkan orang yg baik akan menyembunyikannya.”
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu pernah ditanya: “Apakah seorang mukmin itu hasad?” Beliau rahimahullahu menjawab: “Begitu cepat engkau lupa saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Namun sembunyikanlah hasad itu di dlm dadamu. Hal itu tdk akan membahayakanmu selagi tdk ditampakkan dgn tangan dan lisan.”
Sebab-sebab terjadi hasad banyak sekali. Di antara permusuhan takabur bangga diri ambisi kepemimpinan jelek jiwa serta kebakhilannya.
Hasad yg paling dahsyat adl yg ditimbulkan oleh permusuhan dan kebencian. Karena orang yg disakiti orang lain dgn sebab apapun akan menumbuhkan kebencian dlm hati serta tertanam api kedengkian dlm dirinya. Kedengkian itu menuntut ada pembalasan sehingga ketika musuh tertimpa bala` ia pun senang dan menyangka bahwa itu adl pembalasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuknya. Sebalik jika yg dimusuhi memperoleh ni’mat ia tdk senang. mk hasad senantiasa diiringi dgn kebencian dan permusuhan.
Adapun hasad yg ditimbulkan oleh kesombongan seperti bila orang yg setingkat dengan memperoleh harta atau kedudukan mk ia khawatir orang tadi akan lbh tinggi darinya. Ini mirip hasad orang2 kafir terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yg dikisahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala:
مَا أَنْتُمْ إِلاَّ بَشَرٌ مِثْلُنَا
“Kalian tdk lain kecuali manusia seperti kami.”
Yakni mereka heran dan benci bila ada orang yg seperti mereka memperoleh derajat kerasulan sehingga mereka pun membencinya.
Demikian pula hasad yg ditimbulkan oleh ambisi kepemimpinan dan kedudukan. Misal ada orang yg tdk ingin tertandingi dlm bidang tertentu. Ia ingin dikatakan sebagai satu-satu orang yg mumpuni di bidang tersebut. Jika mendengar di pojok dunia ada yg menyamai ia tdk senang. Ia justru mengharapkan kematian orang itu serta hilang ni’mat itu darinya. Begitu pula hal dgn orang yg terkenal krn ahli ibadah keberanian kekayaan atau yg lain tdk ingin tersaingi oleh orang lain. Hal itu krn semata-mata ingin menyendiri dlm kepemimpinan dan kedudukan. Dahulu ulama Yahudi mengingkari apa yg mereka ketahui tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta tdk mau beriman kepada krn khawatir tergeser kedudukan mereka.
Adapun hasad yg ditimbulkan oleh jelek jiwa serta bakhil hati terhadap hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa jadi orang semacam ini tdk punya ambisi kepemimpinan ataupun takabur . Namun jika disebutkan di sisi tentang orang yg diberi ni’mat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sempitlah hatinya. Jika disebutkan keadaan manusia yg goncang serta susah hidup ia bersenang hati. Orang yg seperti ini selalu menginginkan kemunduran orang lain bakhil dgn ni’mat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas para hamba-Nya. Seolah-olah manusia mengambil ni’mat itu dari kekuasaan dan perbendaharaannya.
Demikianlah kebanyakan hasad yg terjadi di tengah-tengah manusia disebabkan faktor-faktor tadi. Dan sering terjadi antara orang2 yg hidup sejaman selevel atau antar saudara. Oleh krn itu anda dapati ada orang alim yg hasad terhadap alim lain dan tdk hasad terhadap ahli ibadah. Pedagang hasad terhadap pedagang yg lain. Sumber semua itu adl ambisi duniawi krn dunia ini terasa sempit bagi orang yg bersaing.

Buah dari Sifat Hasad
Setiap orang yg lurus dan bijak akan mencela hasad dan berlindung diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala darinya. Lihatlah bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjauhkan Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sikap jelek ini dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela ahlul kitab yg hasad terhadap manusia dlm hal keutamaan yg Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mencerca kaum munafik yg Allah Subhanahu wa Ta’ala katakan tentang mereka:
إِنْ تُصِبْكَ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكَ مُصِيْبَةٌ يَقُوْلُوا قَدْ أَخَذْنَا أَمْرَنَا مِنْ قَبْلُ وَيَتَوَلَّوْا وَهُمْ فَرِحُوْنَ
“Jika kamu mendapat suatu kebaikan mereka menjadi tdk senang karenanya. Dan jika kamu ditimpa oleh suatu bencana mereka berkata: ‘Sesungguh kami sebelum telah memerhatikan urusan-urusan kami ’ dan mereka berpaling dgn rasa gembira.”
Tidaklah setan dimurkai dan dikutuk oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan krn hasad dan sikap sombong terhadap Adam ‘alaihissalam. Hasad adl awal kemaksiatan yg Allah Subhanahu wa Ta’ala dimaksiati dengan di langit –oleh Iblis– dan di bumi –oleh salah seorang anak Adam ketika kurban tdk diterima. Ia lalu membunuh saudara yg diterima kurbannya.
Orang yg hasad selalu dirundung kegalauan melihat ni’mat yg Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada orang lain seolah-olah adzab yg menimpa dirinya. Rabb murka kepada manusia pun menjauh darinya. Tidaklah anda melihat kecuali selalu bersedih hati menentang keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan takdir-Nya. Seandai ia mampu melakukan kebaikan niscaya ia tdk akan banyak beramal dan berpikir utk menyusul orang yg dihasadi. Dan seandai mampu melakukan kejelekan pasti ia akan merampas ni’mat saudara lalu menjadikan saudara itu fakir setelah tadi kaya bodoh setelah tadi pintar dan hina setelah tadi mulia.
Hasad Sifat Yahudi yg Menonjol
Orang yg banyak memerhatikan sejarah dan mencermati kondisi umat-umat yg ada akhlak dan muamalah mereka benar-benar akan ia dapati bahwa umat yg paling jelek akhlak dan paling jahat pergaulan adl bangsa Yahudi. Mereka adl umat yg dikutuk umat berdusta melampaui batas berbuat kefasikan kemaksiatan kekufuran dan penyimpangan. Suatu umat yg dibenci oleh manusia krn keras hati mereka dan dahsyat kedengkian serta hasad mereka.
Asy-Syaikh Muhammad bin Salim Al-Baihani rahimahullahu berkata: “Tidaklah Al-Qur`an menyifati seseorang dgn sifat hasad dari dahulu hingga sekarang lbh dari bangsa Yahudi. Merekalah yg menyatakan tentang Thalut:
أَنَّى يَكُوْنُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ
“Bagaimana Thalut memerintah kami padahal kami lbh berhak mengendalikan pemerintahan daripada dia sedangkan dia pun tdk diberi kekayaan yg banyak?”
Mereka menyatakan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah menurunkan sesuatu pun kepada manusia.
Mereka juga mengetahui kebenaran namun kemudian mengingkarinya. Mereka berusaha menghalangi manusia dari kebenaran krn keangkuhan mereka di muka bumi dan krn mereka lbh menyukai kebutaan daripada petunjuk serta membenci apa yg Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala mengandaskan harapan mereka dan meruntuhkan usaha mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَدَّ كَثِيْرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّوْنَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيْمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ
“Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman krn dengki yg dari diri mereka sendiri setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (Lihat Ishlahul Mujtama’ hal. 103-104}

Antara Hasad dan Ghibthah
Dari uraian yg telah disebutkan jelaslah bahwa hasad adl suatu sifat yg tercela krn pelaku mengharapkan hilang ni’mat yg Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada orang lain serta kebencian memperoleh ni’mat tersebut. Adapun ghibthah adl seseorang menginginkan utk mendapatkan sesuatu yg diperoleh orang lain tanpa menginginkan hilang ni’mat tersebut dari orang itu. Yang seperti ini tdk mengapa dan tdk dicela pelakunya. Jika iri dlm hal ketaatan mk pelaku terpuji. Bahkan ini merupakan bentuk berlomba-lomba dlm kebaikan. Jika iri dlm perkara maksiat mk ini tercela sedangkan bila dlm perkara-perkara yg mubah mk hukum juga mubah.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ، رَجُلٍ آَتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُوْمُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآناَءَ النَّهَارِ
“Tidak ada hasad atau iri –yang disukai– kecuali pada dua perkara; seorang yg diberikan pemahaman Al-Qur`an lalu mengamalkan di waktu-waktu malam dan siang; dan seorang yg Allah beri harta lalu menginfakkan di waktu-waktu malam dan siang.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata:
“Jika ada yg mengatakan mengapa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan dgn hasad padahal orang tadi hanyalah menginginkan utk diberi ni’mat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala?
Maka dijawab bahwa sumber keinginan ini adl krn ia melihat orang lain diberi ni’mat serta ketidaksukaan ada orang lain yg lbh unggul darinya. Jika tdk ada orang lain niscaya dia juga tdk menginginkannya. Karena sumber adl ketidaksukaan utk disaingi oleh orang lain mk dinamakanlah hasad.
Jiwa manusia tidaklah hasad kepada orang yg beramal pada sesuatu yg besar keletihan seperti jihad. Oleh krn itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk menyebutkan meskipun jihad fi sabilillah lbh utama dari orang yg menginfakkan hartanya.
Demikian pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk menyebutkan orang yg shalat puasa dan haji. Karena pada amalan-amalan ini biasa manusia tdk mendapatkan manfaat yg dengan mereka mengagungkan orang tersebut dan menjadikan sebagai pemimpin sebagaimana manfaat yg diperoleh dari taklim dan infak.
Hasad asal hanyalah terjadi krn sesuatu yg diperoleh orang lain mendatangkan kepemimpinan. Oleh krn itu orang yg beramal biasa tidaklah dihasadi meskipun dia berni’mat-ni’mat dgn makan minum dan nikah lbh banyak dari yg lain. Ini sangat berbeda dgn dua jenis orang tersebut kedua sering dihasadi. Oleh krn itu di tengah-tengah orang yg berilmu yg memiliki pengikut didapati sifat hasad yg tdk didapatkan pada orang yg tdk seperti itu. Demikian pula orang yg memiliki pengikut disebabkan infaknya.
Orang yg berilmu akan memberi manfaat kepada manusia dgn santapan rohani dan orang yg kaya akan memberikan manfaat kepada manusia dgn kebutuhan jasmani. Dan semua manusia membutuhkan apa yg menjadikan ruh dan badan baik.
Inilah sahabat ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami utk bersedekah bersamaan dgn saat di mana aku punya harta. Aku menyatakan: Hari ini aku akan saingi Abu Bakr jika aku bisa menyaingi pada suatu hari.’ ‘Umar berkata: ‘Aku datang membawa setengah hartaku.’ ‘Umar berkata lagi: ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadaku ‘Apa yg kau sisakan utk keluargamu?’ Aku berkata ‘Harta yg semisalnya.’ Lalu datanglah Abu Bakr membawa semua yg dimilikinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berta kepada Abu Bakr ‘Apa yg kau sisakan utk keluargamu?’ Dia menjawab ‘Aku sisakan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya.’ mk aku berkata: ‘Aku tdk akan menyaingimu dlm sesuatu pun selama-lamanya.’
Apa yg dilakukan ‘Umar adl bentuk berlomba-lomba dan hasad yg diperbolehkan. Namun keadaan Abu Bakr lbh utama dari krn ia terbebas dari menyaingi orang lain secara mutlak. Ia tdk melihat kepada orang lain .
Demikian pula Nabi Musa ‘alaihissalam dlm hadits Isra` Mi’raj. Muncul dlm diri keinginan menyaingi dan iri kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati Nabi Musa ‘alaihissalam Nabi Musa ‘alaihissalam menangis. Ia ditanya: ‘Apa yg menyebabkanmu menangis?’ Musa berkata: ‘Aku menangis krn ada seorang pemuda –yakni Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam– yg diutus sepeninggalku umat yg akan masuk surga lbh banyak daripada umatku’.”

Faedah Bersih Hati dari Sifat Hasad
Sesungguh di antara tuntunan keimanan adl seseorang mencintai kebaikan bagi saudara sebagaimana yg ia cintai utk dirinya. Keimanan yg benar akan mendorong pemilik utk menghiasi diri dgn akhlak yg terpuji dan mencegah dari terjerumus ke dlm lembah kehinaan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا
“Janganlah kalian saling membenci janganlah kalian saling hasad dan janganlah kalian saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yg bersaudara.”
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata: “Dahulu kami duduk-duduk di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ اْلآنَ مِنْ هَذَا الْفَجِّ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Sekarang akan muncul kepada kalian dari jalan ini seorang lelaki dari penghuni surga.”
Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Lalu muncullah seorang lelaki dari kalangan Anshar jenggot meneteskan air krn wudhu. Orang tersebut mengikatkan kedua sandal di tangan kirinya. Orang itu pun mengucapkan salam. Keesokan hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan yg seperti itu. Muncul lagi lelaki itu seperti pada kali yg pertama. Hari ketiga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan hal yg sama dan muncul lagi lelaki itu seperti keadaan yg pertama.
Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berdiri lelaki itu diikuti oleh Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma. Kemudian Abdullah berkata: “Sesungguh aku bertengkar dgn ayahku lalu aku bersumpah utk tdk masuk kepada selama tiga . Jika engkau mempersilakan aku tinggal di rumahmu hingga lewat tiga hari mk akan aku lakukan. Lelaki itu berkata: “Ya.”
Anas berkata: “Adalah Abdullah –yakni bin ‘Amr– bercerita bahwa ia menginap bersama tiga malam.” Anas berkata lagi: “Ia tdk melihat lelaki itu shalat malam sedikitpun. Ha saja bila ia terbangun dari tidur di malam hari dan menggerakkan di atas kasur ia berdzikir kepada Allah dan bertakbir sampai ia bangun utk shalat fajar. Ha saja jika ia terbangun di malam hari ia tdk berucap kecuali kebaikan. Abdullah berkata: ‘Tatkala tiga malam itu lewat dan aku hampir-hampir menganggap remeh amalan aku berkata: ‘Wahai hamba Allah tdk ada ketegangan dan pemboikotan antara aku dgn ayahku. Namun aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berucap : ‘Sekarang akan muncul kepada kalian salah seorang penduduk surga.’ Lalu engkau muncul tiga kali. Saya ingin tinggal menginap di tempatmu sehingga aku tahu apa amalanmu. Namun aku tdk melihat engkau banyak beramal. Apa gerangan yg menyebabkan kedudukanmu sampai seperti yg disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Dia menjawab: ‘Tidak ada kecuali yg kamu lihat.’ Abdullah berkata: ‘Aku pun meninggalkannya.’ Tatkala aku berpaling ia memanggilku. Ia berkata: ‘Aku tdk punya amalan kecuali apa yg engkau lihat. Ha saja aku tdk dapatkan dlm diriku kedengkian terhadap seorang pun dari kaum muslimin. Dan aku tdk hasad kepada atas kebaikan yg Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya.’ Abdullah berkata: ‘Inilah hal yg menyampaikan engkau kepada kedudukan itu. Dan inilah yg tdk dimampui ’.”
Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Kami mengatakan: ‘Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam siapakah orang yg terbaik?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : ‘Orang yg memiliki hati yg makhmum dan lisan yg jujur.’ Kami berkata: ‘Kami telah tahu lisan yg jujur. Lalu apakah hati yg makhmum?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Hati yg bertakwa lagi bersih tiada dosa dan hasad padanya’.”

Sepuluh Sebab Terhindar dari Kejahatan Orang yg Hasad
1. Berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kejahatan orang yg hasad dan membentengi diri dgn Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin penjagaan bagi orang yg bertakwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا
“Jika kamu bersabar dan bertakwa niscaya tipu daya mereka sedikitpun tdk mendatangkan kemudaratan kepadamu.”
3. Bersabar atas musuh krn tidaklah seorang ditolong dari orang yg hasad dan musuh sebagaimana orang yg bersabar atas dan bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
4. Tawakal. Karena orang yg bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Ia akan mencukupinya. Tawakal termasuk faktor terkuat yg dengan seorang hamba menangkal apa yg tdk dia mampu berupa gangguan makhluk dan kedzalimannya.
5. Mengosongkan hati dari sibuk dan memikirkan orang yg hasad kepada dirinya. Setiap kali terbetik di benak ia menepis dan memikirkan sesuatu yg lbh bermanfaat. Ia melihat bahwa di antara siksaan batin yg besar adl sibuk memikirkan musuhnya.
6. Mengarahkan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ikhlas kepada-Nya serta menjadikan kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keridhaan-Nya di tempat terbetik pikiran. Sehingga benak penuh dgn segala yg dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dzikir kepada-Nya. Orang yg seperti ini tdk akan ridha bila pikiran dan hati dipenuhi dgn memikirkan orang yg hasad dan dzalim kepada serta memikirkan utk membalasnya.
7. Bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari segala dosa. Seseorang dikuasai musuh krn dosanya. Dan tidaklah seorang hamba disakiti kecuali krn dosa baik yg ia ketahui maupun tidak. Dan dosa yg tdk dia ketahui jauh lbh berlipat daripada yg ia ketahui. Dosa yg ia lupakan lbh besar daripada yg ia ingat. Sungguh tiada sesuatupun yg lbh bermanfaat bagi hamba bila dia didzalimi dan disakiti lawan daripada taubat yg tulus. Tanda kebahagiaan adl mengalihkan pikiran utk melihat diri dosa dan cacat sehingga ia pun sibuk utk memperbaiki diri dan bertaubat.
8. Bersedekah dan berbuat baik semampunya. Karena hal itu memiliki pengaruh yg hebat dlm menangkal bencana mata yg jahat dan kejelekan orang yg hasad. Orang yg berbuat baik dan bersedekah kepada orang lain hampir-hampir tdk pernah terkuasai oleh jahat hipnotis hasad dan yg menyakitkan. Jika ia terkena suatu kejahatan ia akan diperlakukan lembut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan memperoleh dukungan.
9. Yang paling berat adl memadamkan api orang yg hasad dan dzalim serta menyakiti dgn berbuat baik kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلاَ تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلاَ السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ. وَمَا يُلَقَّاهَا إِلاَّ الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلاَّ ذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ
“Dan tidaklah sama antara kebaikan dan kejahatan. Tolaklah itu dgn cara yg lbh baik mk tiba-tiba orang yg antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yg sangat setia. Sifat-sifat yg baik itu tidaklah dianugerahkan melainkan kepada orang2 yg sabar dan tidaklah dianugerahkan melainkan kepada orang2 yg mempunyai keberuntungan yg besar.”
Perhatikanlah keadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dipukul oleh kaum sampai berdarah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap darah itu seraya mengucapkan:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ
“Ya Allah ampunilah kaumku sesungguh mereka tdk mengetahui.”
Orang yg memaafkan orang lain dan berbuat baik kepada orang yg berbuat jelek kepada akan mendapatkan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang sahabat yg mengadu kepada beliau tentang karib kerabat di mana ia berbuat baik kepada mereka tetapi mereka berbuat jelek terhadapnya:
لاَ يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيْرٌ مَا دُمْتَ عَلىَ ذَلِكَ
“Senantiasa ada penolong dari Allah selagi kamu di atas keadaan yg seperti itu.”
Di samping itu pula manusia akan memuji dan bergabung bersama menghadapi musuhnya.
10. Memurnikan tauhid. Makhluk-makhluk ini ada yg menggerakkannya. Tidaklah makhluk mendapatkan manfaat dan mudarat kecuali seijin Penciptanya. Jika seseorang memurnikan tauhid mk hilanglah ketakutan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dari hatinya. Musuh menjadi lbh ringan di mata daripada ditakuti bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan keluar dari hati kesibukan memerhatikan musuh lalu hati akan dipenuhi dgn cinta takut kembali dan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia memandang bahwa menggunakan pikiran utk memikirkan musuh adl bentuk lemah tauhid. Karena jika ia telah memurnikan tauhid niscaya dlm hati ada kesibukan tersendiri.
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar